India telah mencapai angka kematian virus corona yang memilukan, 200.000, disertai tekanan bagi banyak rumah sakit yang belum menunjukkan tanda pasien berkurang di tengah hantaman gelombang kedua wabah virus corona.

Angka kematian sesungguhnya diperkirakan jauh lebih besar, di mana banyak kematian yang tidak tercatat secara resmi.

Persediaan oksigen masih sangat kurang di seluruh negeri, di mana pasar gelap menjadi satu-satunya pilihan bagi beberapa orang demi menyelamatkan orang tercinta.

Krematorium beroperasi tanpa henti, dengan tumpukan kayu untuk membakar jasad disiapkan di lahan-lahan parkir.

Dalam sepekan terakhir, ada sedikitnya 300.000 infeksi baru setiap hari. Pada Rabu, infeksi baru mencapai lebih dari 360.000 kasus. Secara keseluruhan, lebih dari 17,9 juta kasus infeksi yang tercatat secara resmi.

Bantuan dari Inggris dan Singapura mulai tiba di India. Rusia, Prancis, dan Selandia Baru berjanji untuk mengirim peralatan medis darurat, dan musuh regional India, Pakistan dan China juga mengesampingkan perbedaan mereka dan berjanji mengirim bantuan.

Dikutip dari BBC, Kamis (29/4), AS akan mulai mengirim persediaan medis bernilai lebih dari USD 100 juta, di samping bantuan dari sejumlah negara bagian AS dan perusahaan swasta juga menyiapkan oksigen, peralatan, dan pasokan medis untuk rumah sakit di India.

Namun demikian, para pakar mengatakan bantuan itu hanya akan berdampak terbatas terhadap negara berpenduduk 1,3 miliar itu.

Situs web pemerintah untuk mendaftar vaksinasi mengalami gangguan segera setelah dirilis pada Rabu, ketika puluhan ribu orang berusaha mengaksesnya. Sementara itu di negara bagian Assam, gempa dengan kekuatan 6,4 SR merusak sejumlah rumah sakit yang telah mengalami ketegangan dengan banyaknya pasien yang harus dirawat.

Data kematian di India dinilai sangat buruk dan kematian di rumah kerap tidak terdaftar, khususnya di wilayah pinggiran. Ada laporan sejumlah jurnalis menghitung sendiri jasad kamar jenazah agar mendapat angka yang akurat.

Di Uttar Pradesh, pejabat kesehatan mengatakan 68 orang meninggal dalam sehari awal bulan ini di seluruh negeri. Tapi koran berbahasa Hindi menunjukkan pejabat itu juga mengatakan ada 98 pemakaman Covid di ibu kota negara bagian, Lucknow.

Di kota Bangalore, seorang dokter mengatakan kepada BBC, orang-orang sangat panik. Bangalore adalah salah satu kota di India yang paling terdampak buruk, beberapa orang memperkirakan ada sekitar 300 kasus Covid aktif per kilometer persegi.

“Kita tidak siap untuk lonjakan kedua ini,” katanya.

“Gelombang pertama tertangani dengan baik. Saat ini ada lebih banyak kasus, lebih mendadak, dan situasinya tidak dipersiapkan untuk itu.”

Dalam laporan mingguannya, WHO menyampaikan ada hampir 5,7 kasus baru dilaporkan pekan lalu secara global, dan India menyumbang 38 persen.

Perdana Menteri Narendra Modi dituding mengabaikan peringatan ilmiah karena terlibat dalam kampanye pemilu lokal dan mengizinkan festival Hindu berlangsung di India utara.

Wakil presiden Asosiasi Kedokteran India, Dr Navjot Dahiya, menyebut Modi “super spreader” yang “melemparkan norma-norma Covid di udara”.

PM Modi mengatakan dia telah menggelar tiga rapat pada Selasa untuk membahas peningkatan kapasitan oksigen dan infrastruktur medis, termasuk penggunaan kereta api dan pesawat militer untuk mempercepat pengiriman persediaan oksigen.

By admin

Leave a Reply